CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Wednesday, February 24, 2010

Rindunya akan kampung halamanku .....


Sudah agak lama aku tidak pulang menjenguk kampung halamanku. Hampir 4 purnama berganti hari, siang dan malam....


Sepanjang bulan November / Disember, walaupun pada musim libur yang panjang, tugas yang menghambat hari-hari sunyiku tidak mengizinkan aku untuk pulang ke kampung. Tambahan lagi, sepanjang dua bulan kebelakangan ini, aku pula banyak menghabiskan hujung mingguku di kota raya KL.

Esok kami bercadang untuk balik ke kampung.... Kampungku di Kota Jelasin @ Wakaf Sena, KB dan kampung mertuaku di Batang Merbau, Tanah Merah. Jumaat merupakan cuti umum sempena Maulidur Rasul.... dan aku memohon CRK pada hari Isnin. Dapatlah aku berlibur beberapa hari di negeri kelahiranku...

Kampung halaman adalah bingkai kenangan dan harapan yang tidak pernah usang. Selalu kuat menahan erat gambar rangkaian perjalanan kehidupan. Betapa jauh sekalipun seseorang itu merantau, di sudut hati pasti akan kembali ke kampung halaman jua. Seolah-olah telah terpikat dan tidak bisa melompat, memudar hasrat.

Kembali ke kampung halaman, mengimbau memori kala bersama leluhurku yang makin hari kian jauh meninggalkan dunia yang fana ini.... Ah... rindunya aku ... Che Yusof, Mok Lijah, Che Daud....Papa, Mama, Mek dan semua yang sentiasa dekat di hatiku....

Terpahat dalam memori, rakan-rakan sepermainan.... sama-sama berlari meniti permatang sawah, menangkap belalang kala musim menuai sudah berakhir... bermain bola 'kaki tiga' dan 'bola wa' dengan penuh gaya... berkejaran bermain 'to jail'. Sering kali juga bersama Noni menyusuri tali air melihat Pakcik menjala ikan atau menangguk udang.... entah di mana mereka sekarang....

Sesekali pulang ke kampung, teringat akan sepat dan puyu yang digoreng garing oleh Mama, di makan dengan nasi panas berasap... tapi kini, hanya tinggal kenangan .... sepat dan puyu sudah kian pupus, tidak seperti zaman kanak-kanakku dahulu....

Di antara kota yang telah menjadi saksi perjalanan kisah, kampung halaman akan tetap ramah untuk menumpahkan kerinduan yang indah. Meski hanya sesekali dijengok, tetapi kampung halaman takkan merengek. Kampung halaman tetap menanti kita kembali, untuk diinjak, meski hanya berpuluh hentakan kaki.

Pulang ke desa kelahiranku, sesekali terasa ingin berlari tanpa alas kaki di atas tali air atau di sepanjang permatang sawah. Tersenyum pada awan biru yang terhias kepakan sayap merpati, nuri dan sejenisnya. Bukankah kedamaian ada di sini, di hati yang berbisik mesra pada hembusan angin,

“Tuhan betapa indah dunia-Mu.”

Lalu rasa lelah pun dibasuh, dengan air jernih yang masih tersisa. Di sana, di kampung halaman.

0 comments: